Oleh: fatiaali | Juli 16, 2008

Bank Syariah Untuk Semua

Eksistensi bank syariah, manfaatnya tidak hanya dapat dinikmati oleh umat Islam saja. Lebih dari itu, sejak awal kelahirannya, bank syariah diformulasikan untuk memberikan rahmat bagi siapa saja yang ingin melakukan transaksi dengan bank syariah. Baik itu, umat Islam sendiri ataupun umat di luar Islam. Oleh karena itu, tidak ada halangan bagi umat lain, non muslim, untuk bertransaksi dengan bank syariah. Tidak salah jika ada yang mengungkapkan bahwa, “Bank syariah untuk semua”. Bagi semua pihak yang telah merasakan ‘manisnya madu’ bank syariah, akan berfikir ulang jika ingin ‘meninggalkan’ bank syariah. Dari sisi keuntungan, bank syariah tidak kalah menariknya dibanding dengan bank konvensional.

Ada beberapa manfaat yang diperoleh, jika kita melakukan transaksi dengan bank syariah. Bank syariah, lazimnya di industri bank lainnya, juga memberikan keuntungan bagi nasabah deposannya dalam bentuk bagi hasil dari keuntungan investasi yang diperoleh bank syariah. Bahkan, nisbah bagi hasil yang diberikan oleh bank syariah kepada nasabah deposannya, tidak jarang lebih tinggi dari keuntungan bunga yang diberikan oleh bank lain. Intinya, bank syariah dapat bersaing dengan bank konvensional dalam memberikan keuntungan yang bersifat finansial.

Produk yang lebih variatif memposisikan bank syariah cenderung untuk memberikan manfaat yang lebih banyak. Dengan banyaknya produk yang dimiliki oleh bank syariah, market dapat mengambil manfaat lebih banyak. Pasar di industri perbankan syariah dapat memilih produk yang diinginkannya. Apalagi saat ini, era marketing sudah memasuki fase market driven yang bertumpu pada cita rasa yang diinginkan oleh pasar. Industri perbankan syariah dituntut untuk bisa lebih memanjakan pasar dengan produk yang variatif. Coba kita cermati! Jika pasar ingin produk bagi hasil, bank syariah mempunyai produk musyarakah ataupun mudharabah. Apabila pasar sudah jenuh dengan produk bagi hasil, pasar dapat menambatkan pilihannya pada produk jual beli. Saat ini, bank syariah mempunyai beberapa produk jual beli, di antaranya ba’i bi tsaman ajil, murabahah, salam dan istishna’. Atau jika pasar menginginkan produk sewa, bank syariah dapat menawarkan produk ijarah-nya. Inilah manfaat besar yang dapat dinikmati oleh pangsa pasar di industri perbankan syariah.

Manfaat lain yang tidak kalah pentingnya adalah manfaat terjadinya keseimbangan ekonomi, yaitu timbulnya keseimbangan antara sektor moneter dan sektor riil. Karakteristik bank syariah ini, jarang didapati pada industri perbankan konvensional, yang notabene-nya cenderung mengabaikan sektor riil. Bahkan, dalam beberapa hal, industri perbankan konvensional lebih suka menyalurkan dananya di sektor moneter dengan menempatkannya pada SBI, obligasi atau penyertaan pada bank lain. Lain halnya dengan apa yang terjadi di industri perbankan syariah. Jika dilihat proto type dari produk-produk yang dimiliki oleh bank syariah di atas, semuanya bermuara pada terjadinya pergerakan di sektor riil. Bahkan, produk jual-beli yang dimiliki bank syariah secara langsung ikut andil besar dalam menggerakkan sektor riil. Dengan adanya transaksi jual-beli, berarti telah terjadi perputaran di sektor moneter dan sektor riil sekaligus. Sehingga keseimbangan kaedah ekonomi “semakin cepat perputaran uang di masyarakat akan menambah besar sisi pendapatan” tetap terjaga dan senantiasa berjalan sesuai dengan hukum alam dalam ilmu ekonomi.

Melihat realita di atas, bagi semua pihak yang mempunyai insting bisnis, baik kalangan muslim ataupun non muslim, melihat keberadaan bank syariah merupakan sebuah phenomenon yang menjanjikan keuntungan bisnis. Oleh karena itu, bagi saudara kita yang terhimpun dalam Fraksi Damai Sejahtera (FDS) di DPR, seharusnya tidak menyikapi draf Rancangan Undang-Undang Perbankan Syariah (RUUPS) dengan reaksioner. Sebaliknya, diharapkan mereka juga ikut  mendukung pengesahan RUUPS tersebut. Karena kalau dicermati secara mendalam, substansi dari RUUPS mengamanatkan berlakunya sistem perbankan yang terbebas dari praktek bunga. Yaitu bank tanpa bunga atau bank dengan bunga nol persen.

Menyoal tentang bunga, sebenarnya larangan terhadap penerapan konsep bunga bukan saja monopoli ajaran Islam. Hampir seluruh agama sawami dan para filosof Yunani kuno, menentang praktek pembungaan uang. Termasuk dalam kitab Taurat dan Injil. “Jika kamu meminjamkan uang kepada orang miskin di kalangan pengikutku, kamu tidak boleh bertindak seperti pemberi pinjaman; kamu tidak boleh menarik bunga darinya.” (Eksodus 22:25). Dalam Deuteronomy 23:19-20 ditegaskan, “Kamu tidak boleh menarik bunga atas segala sesuatu yang kamu pinjamkan kepada sesama warga negara, apakah uang atau makanan atau apa pun yang bisa dikenakan bunga.”

Dari paradigma di atas, diperoleh suatu kongklusi kesamaan berfikir dalam memandang permalahan bunga. Bahwa bunga yang saat ini dipraktekkan dalam sistem keuangan konvensional, dalam perspektif agama, dianggap suatu yang terlarang untuk dijalankan. Dogma gereja, selama berabad-abad, telah menegaskan pelarangan atas bunga. Kalangan pembaharu Kristen, baik Luther maupun Zwingli mengecam penerapan konsep bunga.

Jadi, sesungguhnya tidak ada alasan bagi saudara kita yang ada di FDS untuk menolak lahirnya undang-undang perbankan syariah di Indonesia. Dilihat dari rekaman sejarah, adanya Undang-Undang Wakaf, Undang-Undang Peradilan Agama, dan Undang-Undang Perkawinan, semua-nya tidak menjadikan sendi-sendi bernegara ini akan hancur. Bahkan sebaliknya, meneguhkan semangat kebangsaan yang mengacu kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jika yang dipermasalahkan penggunaan istilah ‘syariah’ dalam RUUPS, sesungguhnya kurang tepat juga. Karena istilah ‘syariah’ secara harfiah, dalam arti bahasa, bermakna jalan yang besar. Seperti yang sering kita dengar dalam percakapan bahasa Arab, “Aina taskun? Askunu fi syari’ Sudirman”. Ungkapan tersebut kalau diartikan, “Kamu tinggal dimana?. Saya tinggal di Jalan Sudirman”. Sedang secara terminologi, kata ‘syariah’ identik dengan arti norma, aturan atau hukum. Dalam al-Qur’an, istilah ‘syariah’ diungkap dalam QS. Al-Maidah 48. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah Swt telah memberikan jalan dan aturan yang jelas bagi setiap umat manusia.

Oleh karena itu, adanya RUUPS bukanlah semata untuk kepentingan umat Islam. Tetapi, RUUPS dapat membawa rahmat bagi kelompok lain. Sebagaimana hakekat ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin. Wallahu ‘alam bis showab.

 
Oleh: AM Hasan Ali, MA (Staf Pengkaji PKES}

Tulisan ini pernah diterbitkan di Koran Seputar Indonesia 14 Februari 2008

About these ads

Responses

  1. islam rohmatan lil alamin …. mari kita wujudkan dalam bidang ekonomi


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: