Oleh: fatiaali | April 21, 2008

Bank Syariah: Islamisasi atau Arabisasi?

Oleh: AM Hasan Ali, MA

Tema ini mengemuka karena ada semacam keraguan di hati sebagian umat Islam akan “keislaman” dari bank syariah. Pernyataan ini tidak akan terjadi jika tidak ada indikasi yang menempatkan posisi bank syariah sebagai sesuatu yang tertuduh sudah tidak “Islam” lagi, atau paling tidak sudah tidak sempurna lagi keislamannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa proses islamisasi bank syariah belum berjalan sesuai yang diharapkan? Apa bank syariah masih enggan untuk berlaku secara istiqamah menjalankan konsep awal perbankan syariah, sehingga masih perlu melakukan operasi pada wilayah kekuasaan bank konvensional? Atau bank syariah memang dari awal bukan produk dari Islamisasi, tapi hanya sekedar proses Arabisasi?

Islamisasi dan Arabisasi, keduanya mempunyai kesamaan dalam format pada sebuah proses yang mengandalkan semangat internalisasi nilai-nilai sebagai kekuatan dalam memberikan warna terhadap realita baru yang berkembang di masyarakat. Di sisi lain, pemahaman terhadap Islam dan Arab menjadi suatu yang tidak dapat dipisahkan, -paling tidak keduanya mempunyai sesuatu yang identik- karena Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw pertama kali turun di tanah Arab, dengan memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Semua aturan dan norma Islam disampaikan dengan bahasa Arab, sebagai bahasa al-Qur,an dan as-Sunnah. Implikasi dari pemahaman ini mengharuskan bagi semua pihak yang ingin memahami Islam wajib faham dan mengerti tentang bahasa Arab.

Sedang yang membedakan antara Islamisasi dan Arabisasi terdapat pada subtansi yang dikandungnya. Islamisasi sebagai suatu proses internalisasi dari nilai-nilai Islam pada temuan-temuan baru yang belum ada semangat keislamannya memberikan mandat agar memasukan ajaran Islam di dalamnya atau menyesuaikannya dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dalam hal ini, semua temuan baru, baik di bidang ekonomi, sosial dan ilmu pengetahuan, harus tunduk dengan aturan Islam. Islam sebagai agama ditempatkan pada posisi yang tinggi memandu umat manusia menjalankan kehidupannya di dunia.
Adapun Arabisasi tidak lain dari sekedar budaya yang berkembang di tanah Arab, baik melingkupi aspek bahasa maupun ilmu pengetahuan, yang suatu ketika dapat dijadikan acuan oleh pihak lain dalam mengambil i’tibar untuk diterapkan kembali pada kondisi yang berbeda. Pada posisi seperti ini, menyamakan antara Islamisasi sebagai proses internalisasi nilai-nilai suatu agama dengan Arabisasi yang hanya mengakar pada budaya adalah sebuah tindakan yang tidak dapat diterima bahkan merupakan bentuk perbandingan yang tidak berimbang. Memang sebuah realita yang mengandung kebenaran, bahwa Islam diturunkan di tanah Arab dengan memakai bahasa Arab. Tetapi, tidak semua budaya yang lahir di tanah Arab sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Bagaimana dengan eksistensi bank syariah? Apakah merupakan hasil proses Islamisasi atau Arabisasi? Judul di atas memberikan penegaskan terhadap keberadaan bank syariah seperti yang ada pada saat ini merupakan sesuatu yang baru, yang sebelumnya pada masa awal Islam, era Nabi Muhamamad Saw dan era Khalifah ar-Rasyidah, tidak ditemukan praktek bank seperti kita ketahui saat ini. Maka dari itu, perlu adanya penyesuaian praktek bank tersebut dengan ajaran Islam melalui wadah “islamisasi”, yaitu dengan cara memberikan warna keislaman pada praktek kegiatan bank serta meniadakan segala sesuatu yang bertentangan dengan norma Islam. Seluruh nilai yang ada dalam bank yang bertentangan dengan Islam harus dikeluarkan, termasuk di dalamnya instrument bunga yang tidak lain adalah riba dalam era modern. Inilah yang dimaksud dengan Islamisasi.

Pada waktu proses Islamisasi di dunia perbankan berlangsung, tidak diragukan berlangsungnya persenyawaan dengan proses Arabisasi. Hal ini, menjadi sebuah konsekuensi logis ketika ajaran Islam membumi dengan memakai bahasa Arab sebagai sarana dalam menyampaikan informasi ke umat manusia. Tidak dapat dipungkiri, kalau beberapa istilah yang sering dipakai oleh dunia perbankan syariah menggunakan bahasa Arab sebagai sarana untuk mengenalkan eksistensi bank syariah sebagai sebuah lembaga keuangan yang mempunyai istilah sendiri. Beberapa istilah tersebut di antaranya adalah mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, dll. Semua istilah di atas jelas memakai bahasa Arab.
Sementara, adanya kesan dari masyarakat yang menganggap bank syariah prakteknya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh bank konvensional merupakan isu yang perlu diluruskan. Pihak-pihak yang bersuara miring itu, hanya melihat proses Arabisasi, bukan sebagai proses Islamisasi. Proses Islamisasi industri perbankan telah menafikan nilai-nilai yang bertentangan dengan syariah Islam. Artinya, semua nilai dan instrumen yang selama ini dikerjakan oleh industri keuangan konvensional yang bertentangan dengan syariah Islam telah dimurnikan dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Ketidakpuasan beberapa pihak dengan operasional bank syariah karena masih mengadopsi manajemen yang selama ini dijalankan oleh perbankan konvensional, bisa jadi memang kondisi yang riil terjadi. Sehingga, adanya ketidaksesuaian antara konsep dan praktek operasional di beberapa bank syariah merupakan kasus yang tidak perlu digeneralisir. Wallahu ‘alam bis showab. [hsn]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: