Oleh: fatiaali | April 21, 2008

Umat Islam Bukan Market yang Emosional

Banyak kalangan menganggap bahwa pangsa pasar di industri keuangan syariah, khususnya pada industri perbankan syariah, merupakan personifikasi dari pangsa pasar yang emosional. Bank Indonesia (BI), dalam hal ini terwakili melalui ungkapan Direktur Direktorat Perbankan Syariah, Ramzi A. Zuhdi, termasuk pihak yang ikut dalam riak gelombang yang menyuarakan kalau market share perbankan syariah dikuasai oleh pasar yang emosional. Bahkan, seorang Hermawan Kartajaya, yang telah ditahbiskan menjadi begawan dalam dunia marketing di Indonesia, ikut juga menceburkan diri dalam mainstream ini. Dalam acara Workshop Marketing Sharia 2008, Hermawan lagi-lagi menandaskan pendapatnya, bahwa pelaku di industri perbankan syariah, termasuk deposan (pihak ketiga yang menempatkan dananya pada bank syariah), dianggap sebagai market yang emosional.

Pemilahan pasar menjadi rasional dan emosional dari fungsi segmentasi dalam dunia marketing merupakan sesuatu yang wajar. Tidak ada masalah. Karena dapat membantu proses marketing menjadi lebih terarah. Perusahaan dapat menetapkan target yang tepat untuk dijadikan pasar sasaran da proses marketing. Perusahaan juga dapat menetapkan strategi pemasaran yang efektif. Masalahnya, parameter apa yang digunakan untuk mengukur pasar agar masuk dalam kategori rasional atau emosional? Apakah karena faktor follow the trend, dianggap sebagai alat untuk menjustifikasi sebagai bagian dari pasar emosional? Atau faktor ketaatan market untuk menjalankan nilai yang diajarkan oleh agamanya sebagai indikator untuk memasukkan dalam pasar emosional?

Sesungguhnya, bagi orang awam, distorsi wacana pasar rasional dan pasar emosional telah memasuki ranah nilai pada diri seseorang. Biasanya, orang yang disebut rasional difahami sebagai person yang menempatan rasio, akal fikir, sebagai alat kontrol untuk mengambil keputusan. Orang yang berfikir rasional, dianggap sebagai sosok yang dapat memanfaatkan kekuatan akal fikir untuk memilih sebuah produk secara tenang dan penuh pertimbangan. Tanpa dibarengi rasa emosi atau ketergesaan dalam memilih. Kadang juga, istilah rasional dimaknai sebagai sesuatu yang masuk akal. Sehingga, tidak jarang sesuatu yang dianggap tidak masuk akal disebut dengan irasional. Oleh karena itu, dilihat dari makna implisit, istilah rasional mendekati makna kata yang berkonotasi positif, daripada negatif.

Sebaliknya, istilah emosional lebih identik dengan kondisi seseorang yang mengesampingkan daya nalar, kekuatan fikir, untuk memutuskan suatu perkara. Bahkan, kata emosional mengandung makna kata yang negatif. Misal, ada seorang berkata, “Janganlah kamu emosi menghadapi masalah ini”. Artinya, kita diminta tenang untuk memilih dalam mengambil keputusan, apakah harus mengambil produk yang ditawarkan oleh perusahaan atau mengabaikan produk tersebut untuk tidak jadi dibeli. Jadi, secara implisit, kata emosional berkonotasi negatif. Dengan makna tidak rasional dan cenderung lepas kontrol.
Sinyalemen yang menyatakan kalau market share di industri perbankan syariah di-dominasi oleh pangsa pasar yang tidak rasional (baca: emosional) kuranglah tepat, jika tidak ingin dikatakan sebagai satu kesalahan. Bagi umat Islam, melakukan transaksi di perbankan syariah, selain bermotivasi untuk meraih falah (kebahagiaan di dunia), juga sebagai perwujudan dari ketaatan untuk menjalankan nilai yang ada dalam ajaran Islam. Dalam hal ini, umat Islam sadar dan berfikir secara rasional untuk memastikan bertransaksi secara islami pada bank syariah. Umat Islam bukanlah secara emosional menjatuhkan pilihan untuk menitipkan dananya pada bank syariah. Umat Islam, sekali lagi, sangat rasional dan berfikir secara smart, karena dengan menetapkan hati di bank syariah berarti telah menjalankan perintah agama Islam. Menjalankan perintah agama adalah bagian dari pengamalan ajaran Islam secara rasional. Bagi kita, umat Islam, berfikir tentang surga adalah bagian yang rasional. Umat Islam akan marah jika disebut emosional dalam menyikapi bank syariah.

Oleh karena itu, diferensiasi pasar rasional dan pasar emosional kuranglah tepat jika dinisbahkan pada umat Islam. Munculnya pembedaan pasar rasional dan pasar emosional, sesungguhnya berawal karena market share di industri perbankan syariah relatif masih kecil. Tepatnya, baru pada kisaran angka 1,7%. Sedangkan, di lain pihak, BI telah membidik target market share di industri perbankan syariah pada tahun 2008 di angka 5%. Walaupun dalam kaca mata beberapa pengamat industri perbankan syariah, target tersebut dianggap kurang rasional.

Setelah itu, beberapa pihak berpendapat, perolehan market share pada angka 1,7% ikut disumbang oleh pangsa pasar bank syariah yang baru pada wilayah emosional. Dalam hal ini, pangsa pasar rasional dianggap tidak banyak memberikan sumbangan dalam pengembangan bank syariah. Inilah justifikasi yang sering diungkap oleh para pihak yang mengusung adanya pasar emosional.

Sesungguhnya, kalau diperhatikan dengan cermat, yang menjadi masalah serius dalam pengembangan industri perbankan syariah terletak pada aspek sosialisasi. Selama ini, dirasakan sosialisasi perbankan syariah masih belum menyentuh ke seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, jika ada pihak yang mengkerdilkan peran Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) dalam melakukan proses sosialisasi perbankan syariah ke masyarakat, secara tidak langsung telah memasung pengembangan industri perbankan syariah di Indonesia.

Tetapi, jika kita masih ingin memaksakan penggunaan istilah pasar emosional bagi kalangan umat Islam yang melakukan transaksi di industri perbankan syariah. Secara tidak langsung akan memberikan penegasan bahwa, semua pelaku di industri perbankan syariah dianggap emosional. Apa memang seperti itu? Oleh karena itu, menurut hemat saya, sangatlah kurang tepat memetakan market share industri perbankan syariah dengan menggunakan istilah pasar rasional dan pasar emosional. Wallahu ‘alam bis showab.
Oleh: AM Hasan Ali, MA


Responses

  1. Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/bisnis_keuangan/umat_islam_bukan_market_yang_emosional/

  2. Assalamu’alaikum,

    Saya ingin sedikit berkontribusi tentang artikel anda diatas,
    Pertama, penetapan Segementasi pasar adalah suatu pendekatan dalam dunia marketing yang sangat scientific, melalui metodologi survey research dan pengamatan yang bisanya melibatkan banyak respondent.
    Dan ketika didapat segment bank syariah yang emotional dan rational, itu pasti dari suatu kajian sangat dalam. Saya sendiri sependapat bahwa tingkat pemilihan bank syariah lebih pada value emotional spiritual yang dianut oleh nasabahnya, faktor kenyamanan dan spiritualitas adalah motivasi utama yang melandasi.
    Bahwa seorang muslim memilih bank syariah karena kepatuhan terhadap syariah Islam yang akan menghantarkannya ke ke-Ridlo-an Alloh dianggap sebagai wilayah rational dan konsekuensi logis seorang muslim mungkin secara adaptasi benar, tapi dalam proses pemilihan konsumen terhadap suatu bank, wilayah tersebut adalah wilayah emotional, karena pada saat itu konsumen cenderung tidak memprioritaskan physical benefit yang ditawarkan oleh bank.
    Dalam marketing tidak ada definisi negatif dan positif terhadap pendekatan rational maupun emotional, masing-masing mempunyai advantage sesuai karakter dan value yang ingin dideliver.
    Kedua, saya setuju bahwa masalah sosialisasi mengenai bank syariah ini belum maksimal dilakukan, sosialisasi berarti melakukan market education, saya terinspirasi oleh tulisan anda tentang bagaimana mendeliver value bank syariah yang lebih kuat lagi dari sisi rational. Bayangkan jika kita bisa meng-educate masyarakat bahwa sistem riba itu merusak perekonomian secara makro, menurunkan investasi, menumbuhkan spekulan-spekulan jahat yang merusak perekonomian juga menggerogoti APBN (referensi tentang efek riba ini banyak dianalisa di literatur-literatur).
    Sehingga at the end of the day, konsumen secara rational tidak berfikir hanya masalah profit, service dan instrumen lain dibandingkan bank conventional, tapi sadar secara nalar bahwa sistem ekonomi riba itu merusak dan menghancurkan.
    Wallohualam bi sawab,

    Wassalam,
    Yudha Octavinanda
    Praktisi Marketing dan Periklanan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: