Oleh: fatiaali | Mei 12, 2008

Ayat-Ayat Cinta dan Ayat-Ayat Ekonomi

Kalau masyarakat telah dihebohkan dengan Ayat-Ayat Cinta (AAC), baik dalam wujudnya sebagai novel terlaris yang mengalami cetak ulang mengalahi Harry Potter ataupun tersajikan dalam bentuk film yang laris manis ditonton oleh lebih dari tiga juta orang Indonesia. Maka dalam dekade awal abad ini, disadari atau tidak, sesungguhnya masyarakat Indonesia sudah terlebih dahulu dihebohkan dengan Ayat-Ayat Ekonomi (AAE) yang sudah menjelma menjadi bank syariah ataupun lembaga keuangan syariah lainnya yang sedang tumbuh, bak jamur di musim hujan.

Ayat-Ayat Cinta
Ada pesan yang sama yang ingin disampaikan oleh AAC dan AAE. Keduanya ingin mengirim ‘pesan langit’ yang selama ini difahami dengan bahasa verbal oleh kebanyakan orang. Dengan hadirnya AAC dan AAE, keduanya menyapa dengan bahasa komunikasi yang akrab yang sedang digandrungi oleh masyarakat. Betapa tidak, dalam dunia entertainment masyarakat sekarang ini sudah menjadikan ‘layar lebar’ dan ‘kotak ajaib’ (baca: tv) sebagai alat komunikasi yang dapat membiusnya. Belum lagi komunitas masyarakat penggemar novel, yang menjadikannya sebagai bacaan ‘wajibnya’. Dengan datangnya AAC, ‘pesan langit’ telah terkirim melalui bahasa entertainment yang disukai masyarakat. Masyarakat tidak sadar dibawa hanyut dalam derasnya arus cerita AAC yang sarat dengan nilai ajaran Islam.
Dalam AAC, meminjam bahasa Nadirsyah, Doktor Hukum Islam yang saat ini tinggal di Australia, fenomena AAC mengindikasikan terjadiya krisis pemuda ideal yang sudah jarang dijumpai dalam suasana masyarakat yang cenderung mengabaikan penghargaan kepada wanita. Munculnya sosok Fachry dalam AAC sebagai obat penawar dari krisis pemuda ideal tersebut. Sosok Fachry selaku pemuda yang pengetahuan keislamannya sangat mendalam menjadi cerminan bagi pemuda saat ini.

Lebih dalam lagi, AAC membawakan pesan yang berharga mengenai ajaran Islam. Dalam AAC, digambarkan Islam sebagai ajaran agama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita. Islam bukan agama penebar teror yang sengaja dituduhkan oleh dunia Barat selama ini. Sebaliknya, Islam merupakan ajaran damai yang menentang kekerasan. Selain itu, AAC menyampaikan pesan yang mendalam tentang kejujuran, kebenaran, keteguhan iman dan ketaqwaan. Nilai-nilai inilah yang nantinya akan menjunjung manusia pada derajat yang mulya di sisi Allah Swt.

Pesan begitu mendalam itu terurai dalam rangkaian alur cerita yang mengalir dalam AAC. Pembaca dan penontonnya digiring ke alam bawah sadar yang membangunkan kembali rasa kesadarannya untuk berkomitmen dengan nilai-nilai keislaman. Bagaimana perjalanan spiritualitas sosok Maria yang mengakhiri kehidupannya dengan husnul khatimah di hadapan Allah Swt akan senantiasa dikenang dan diteladani oleh jutaan pembaca dan penonton AAC.

Ayat-Ayat Ekonomi
Cerita yang tak kalah serunya dengan AAC dan sempat menarik perhatian Presiden SBY adalah fenomena Ayat-Ayat Ekonomi (AAE) yang sedang menggeliat dalam bentuk operasional lembaga keungan syariah. Betapa tidak, hajatan besar yang digelar oleh Bank Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC) pada pertengahan Januari 2008 telah dibuka langsung oleh RI 1. Hajatan itu berupa Festival Ekonomi Syariah (FES) yang hasilnya mengamanatkan gerakan ekonomi syariah menjadi agenda nasional bangsa Indonesia.

AAE merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Sebelum ada bank syariah maupun lembaga keuangan syariah lainnya, AAE masih berwujud konsep nilai ekonomi yang tersusun rapi dalam lembaran-lembaran suci kitab al-Qur’an. Praktek AAE pada masa itu masih terbatas oleh individu, belum dijalankan oleh institusi keuangan. Baru setelah ditemukan adanya formula lembaga keuangan syariah, AAE menjelma menjadi bank syariah, asuransi syariah, reksadana syariah, pegadaian syariah dan koperasi syariah.

Dalam prinsipnya, AAE mengacu pada kaedah larangan riba (baca: bunga). Setiap transaksi ekonomi yang mengacu pada AAE harus terbebas dari adanya riba. Riba dilarang keras dalam AAE karena bertentangan dengan nilai keadilan. Riba adalah ‘monster’ yang akan merusak sendi-sendi perekonomian suatu bangsa. Riba adalah ‘virus’ yang mematikan bagi kegiatan ekonomi yang berlangsung di suatu wilayah. Oleh karenanya, praktek riba sangat-sangat dilarang dalam AAE.

Karena riba dilarang dalam AAE, maka sebagai jalan alternatif yang lain, AAE membolehkan praktek transaksi jual-beli, bagi-hasil dan sewa-menyewa. Jual-beli dibolehkan dalam AAE karena mengandung unsur keridhaan (an taradhin) antar pihak yang melakukan transaksi jual-beli, yakni pihak penjual (al-ba’i) dan pembeli (al-musytariy). Sedangkan bentuk bagi hasil yang teraplikasikan dalam model mudharabah dan praktek sewa menyewa sarat dengan semangat tolong-menolong (ta’awun) antar pihak yang melakukan transaksi.

Lembaga keuangan syariah yang tidak lain jelmaan dari AAE, dalam prakteknya, harus terhindar dari riba. Sebaliknya, lembaga keuangan syariah diperbolehkan mempraktekkan jual-beli, bagi hasil ataupun sewa menyewa.

Ayat-Ayat Allah
AAC dan AAE berasal dari sumber yang sama, yakni bersumber dari Ayat-Ayat Allah (AAA) yang ada dalam al-Qur’an al-Karim. Antara AAC dan AAE mempunyai korelasi yang saling menguatkan dan meneguhkan akan kebesaran Allah Swt. Karena merupakan bagian dari AAA, maka AAC dan AAE mempunyai motivasi yang sama, yakni dalam rangka ingin menggapai keridhaan dan kecintaan dari Pemilik sekaligus Pengatur kehidupan di alam semesta ini, Allah Azza wa Jalla.

Kalau AAC melahirkan rasa mahabbah yang dinaungi oleh keberkahan dari Penciptanya. Maka AAE juga sama memberikan kepada pelakunya keuntungan yang diberkahi Allah Swt. Wallahu ‘alam bis showab.

Oleh: AM Hasan Ali, MA
(Staf Pengkaji PKES dan Pengajar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: