Oleh: fatiaali | Mei 26, 2008

Menguji Produk Keuangan Syariah Di Forum Bahtsul Masail

Oleh: AM Hasan Ali, MA*

Kalau industri keuangan syariah mempunyai produk untuk ditawarkan ke market, maka Nahdlatul Ulama (NU) dan para Kyai di Pesantren juga mempunyai forum bahtsul masail yang berfungsi untuk merespon permasalahan baru yang timbul di masyarakat. Ada hal yang menarik untuk dibincangkan antara produk kemasan yang dipunyai industri keuangan syariah dengan tradisi yang biasa dijalankan oleh NU dan para Kyainya.

Ide membincangkan kedua masalah ini baru terasa besar manfaatnya, tetkala Ketua Syura Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa-Timur, Al-Mukarram KH Miftahul Akhyar, mengingatkan saya jika inovasi produk yang selama ini dilakukan oleh industri keuangan syariah dapat ‘diuji’ terlebih dahulu, sebelum di-launching, dalam forum bahtsul masail di internal NU. Kalau ini dapat disinergikan maka akan terjalin hubungan baik antara NU dan industri perbankan syariah.

Selama ini, inovasi produk di industri keuangan syariah masih dikonsultasikan dengan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). DSN-MUI yang salah satu kewenangannya memproduksi fatwa, selanjutnya akan dijadikan sebagai panduan bagi industri keuangan syariah di Indonesia, mempunyai peran besar dalam menentukan inovasi produk yang diinginkan oleh industri. Fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI tidak jarang merupakan permintaan dari industri keuangan syariah agar DSN-MUI memberikan legalitas dari produk yang sedang dikembangkannya.

Dengan melalui lembaga bahtsul masail NU, ada jalan lain yang dapat dijadikan acuan untuk mengkaji terlebih dahulu produk di industri keuangan syariah, selain DSN-MUI.

Inovasi Produk

Lembaga keuangan syariah (LKS) seperti bank syariah atau asuransi syariah merupakan perusahaan yang bergerak di industri jasa. Sebagai perusahaan bisnis, keduanya pasti mempunyai produk yang akan ditawarkan ke pasar. Produk itu berupa produk jasa keuangan syariah. Produk jasa termasuk produk yang intangible, produk yang tidak dapat dilihat ataupun diraba, tetapi dapat dirasakan manfaatnya. Dalam industri keuangan syariah, produk yang dikembangkannya dipengaruhi oleh akad yang mendasarinya. Akad akan membangun sebuah produk. Di sini terlihat akan arti pentingnya pemahaman akad bagi orang yang bekerja di bagian inovasi produk pada industri keuangan syariah.

Dewasa ini, banyak sekali variasi produk yang dikembangkan oleh industri keuangan syariah. Misal, di industri perbankan syariah, secara garis besar dapat dipetakan menjadi tiga produk, yakni produk penghimpunan dana, produk penyaluran dana dan produk jasa.

Dalam produk penghimpunan dana, bank syariah mempunyai produk tabungan, deposito dan giro yang prakteknya menggunakan akad wadiah dan mudharabah. Sedangkan dalam produk penyaluran dana di industri perbankan syariah ditemui adanya produk yang mengacu pada prinsip jual-beli, bagi hasil dan sewa-menyewa.

Seiring dengan perkembangan produk di industri keuangan, pelaku di industri keuangan syariah dituntut untuk menginovasi produk yang dimilikinya. Beberapa produk inovatif yang kini dimiliki oleh industri keuangan syariah diantaranya berupa produk murabahah, wadiah yad dhamanah, ijarah muntahiya bit tamlik dan wakalah bil ujrah, dll.

Produk murabahah adalah produk jual beli yang dimiliki industri keuangan syariah yang pembayarannya dilakukan secara mencicil dengan keuntungan disebutkan di awal. Dalam prakteknya, produk murabahah ini dapat dianggap sebagai solusi pengganti dari produk kredit yang dimiliki oleh industri keuangan konvensional yang berbasis bunga. Masalahnya sering kali pelaku di industri keuangan syariah, menjadikan murabahah produk yang tidak independen, karena harus mempertimbangkan tingkat bunga yang terjadi di pasar konvensional untuk mengukur tingkat margin keuntungan. Akibatnya, kesan yang timbul sementara ini, murabahah dianggap sebagai produk yang karakteristiknya sudah hilang. Oleh karena itu, karakter awal yang dimiliki oleh produk murabahah harus dikembalikan lagi dengan memperhatikan kaedah yang sebenarnya, khususnya berkaitan dengan daya tawar dalam murabahah.

Wadiah yad dhamanah dianggap bagian dari inovasi produk di industri perbankan syariah. Kalau dicermati, prinsip wadiah (titipan) adalah amanah. Dengan adanya opsi dhamanah, produk wadiah terinovasi dalam bentuk titipan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak yang dititipi. Sebagai konsekuensinya, pihak yang mendapat titipan bertanggungjawab terhadap barang titipan tersebut jika terjadi risiko kerugian atau kehilangan. Dalam industri perbankan konvensional, produk wadiah yad dhamanah mengambil tempat sebagai produk tabungan atau deposito.

Adapun produk ijarah muntahiya bit tamlik difahami sebagai bagian dari produk sewa yang pada akhir perjanjian terjadi perpindahan hak kepemilikan atas barang yang disewakan. Singkatnya, ijarah muntahiya bit tamlik tidak lain adalah sewa beli seperti yang dilakukan oleh industri keuangan konvensional. Jika kita teliti dengan seksama, prinsip dari ijarah adalah sewa yang tidak diiringi dengan adanya perpindahan hak milik. Jelaslah, jika ijarah muntahiya bit tamlik adalah inovasi produk ijarah.

Sedangkan wakalah bil ujrah merupakan inovasi produk yang dapat ditemukan pada praktek di industri asuransi syariah. Secara definitif, wakalah bil ujrah dapat difahami sebagai bentuk perwakilan dari pihak tertanggung oleh pihak penanggung yang upah dari perwakilan tersebut diambilkan dari pembayaran uang premi. Biasanya upah (ujrah) tersebut dipotong di awal pembayaran premi. Dalam praktek asuransi konvensional, wakalah bil ujrah dapat terlihat dalam wujud beban biaya (cost) penjaminan yang dibebankan pada pihak tertanggung.

Bahtsul Masail

Bahtsul masail di kalangan tradisi NU bukanlah barang yang asing lagi. Mulai dari tingkat pusat di PBNU, sampai tingkat ranting NU di desa, bahtsul masail telah dipraktekkan dalam wujud pembahasan masalah-masalah waqi’iyah (kekinian) yang muncul di masyarakat, baik itu masalah sosial, ekonomi, hukum, politik ataupun masalah kemasyarakatan lainnya.

Tempo dulu, forum atau lembaga bahtsul masail biasanya dilakukan bertepatan dengan malam lailatul ijtima’, malam berkumpul bersama, yang jatuh setiap tanggal 15 penanggalan qomariah (penanggalan yang didasarkan pada perhitungan peredaran bulan). Sebelum diadakan bahtsul masail, biasanya terlebih dahulu melakukan shalat sunnah dan mujahadah (istighotsah) secara berjamaah dengan dipimpin oleh seorang Kyai. Baru setelah itu dilaksanakan acara bahtsul masail. Tradisi yang sarat dengan nilai spiritualitas serta semangat kebersamaan yang perlu terus dilakukan.

Pada tingkat pusat di PBNU, bahtsul masail telah menjelma sebagai lembaga otonom yang secara struktural menginduk ke PBNU. Biasanya, hasil dari keputusan bahtsul masail selalu didokumentasikan dalam bentuk buku yang dapat dibaca oleh kaum nahdliyyin, warga NU, sebagai acuan dalam melangkah dalam kehidupan bermasyarakat.

Terkait dengan masalah inovasi produk keuangan syariah, PBNU dan lembaga keuangan syariah, seperti bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, reksadana syariah dan koperasi syariah, dapat bekerja sama melalui lembaga bahtsul masail untuk merumuskan produk keuangan syariah yang inovatif.

Manfaat

Mengapa gagasan ini perlu segera dimunculkan dan sekaligus terealisasikan ? Tidak lain, karena ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan betapa sinergi ini akan menghasilkan kekuatan yang besar jika dilakukan.

Pertama, NU adalah gudangnya para alim-ulama yang ahli dalam berbagai masalah, khususnya masalah agama. Satu bagian dari masalah agama adalah kajian mengenai fiqh mu’amalah. Fiqh mu’amalah yang menjadi salah satu referensi operasional sistem ekonomi Islam yang selanjutnya dimanifestasikan dalam bentuk praktek lembaga keuangan syariah, telah menjadi bahasan dan bahan kajian sehari-hari para Kyai NU. Artinya, para Kyai NU-lah yang cocok untuk menjaga sekaligus mengembangkan konsep fiqh mu’amalah dalam menyikapi perkembangan di industri keuangan syariah.

Kedua, dengan inovasi produk yang dikeluarkan oleh forum bahtsul masail, NU dapat menikmati keuntungan dari adanya industri keuangan syariah. NU dapat meminta pada perusahaan di industri keuangan syariah yang produknya diinovasi oleh lembaga bahtsul masail agar dapat bekerja sama dalam bisnis yang menguntungkan serta dapat membuat program pemberdayaan sumber daya nahdliyyin atau program pengembangan pondok pesantren yang dananya berasal dari industri keuangan syariah.

Ketiga, tidak dapat dipungkiri, kalau NU dari sisi ilmu marketing merupakan pangsa pasar yang besar untuk dikembangkan. Warga nahdliyyin yang notabene-nya menempati posisi mayoritas dalam struktur penduduk Indonesia, selama ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik partai tertentu, dapat dijadikan target market oleh industri keuangan syariah. Atau kalau memang sudah siap, NU dapat bermain sendiri dengan mendirikan industri keuangan syariah yang dipelopori oleh PBNU. Misal, kalau NU sudah memiliki bank syariah sendiri, maka target marketnya sudah jelas yakni warga nahdliyyin yang loyalis. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar Jombang. Kini aktif sebagai pengkaji di PKES dan staf pengajar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Responses

  1. kang ali apa kabar ?
    idenya bagus juga, tapi lumayan merepotkan kaena modal minimal yangharus dihimpun untuk mendirikan sebuah bank syari’ah lumayan besar.
    NU pernah bekerja sama dengan bank summa dengan nama NUSUMMA bagaimana kabarnya sekarang. apakah masih ada? kalau masih ada berarti lembaga bahtsul masail NU masih menghalalkan bunga, gimana wong alim koq masih menghalalkan bunga bank ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: