Oleh: fatiaali | Agustus 29, 2008

Muhammad Seorang Pedagang

Rasulullah dilahirkan pada bulan Rabiul Awwal. Beliau dilahirkan di tengah-tengah masyarakat yang sedang dalam keadaan gelap gulita, jauh dari nilai-nilai moral dan cahaya kebenaran. Pada waktu itu, tidak ada ketentuan hukum yang dapat mengatur kehidupan bangsa Arab karena mereka telah lama melupakan ajaran para Rasul terdahulu, sehingga berlakulah hukum rimba dimana yang kuat dan menang berkuasa, yang lemah dan kalah tertindas. Waktu itu merajalelah penindasan dan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan kemanusiaan, sehingga bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang rendah budi pekertinya.

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa apabila pada suatu masyarakat telah mengalami puncak kekacauan dan kerusakannya maka Allah Swt mengutus orang yang akan memperbaiki keadaan masyarakat yang demikian itu.

Allah Swt menutus Nabi Muhammad Saw untuk memperbaiki nilai-nilai moral manusia yang telah rusak dan merombak struktur masyarakat jahiliah yang sesat. Sehingga benar-benar kelahiran Muhammad Saw menjadi suatu rahmat bukan saja bagi masyarakat Arab tetapi bagi seluruh dunia. Karena itu sangat benar firman Allah Swt:
Dan tiada Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 107)

Pada bulan rabiul awwal, umat Islam menyambut dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan berbagai cara, hal ini adalah merupakan bukti rasa cinta kita kepada beliau, disamping itu peringatan Maulid Nabi dijadikan motivasi untuk menggali dan meneladani nilai-nilai ruhaniyah yang dimiliki oleh beliau. Sebagaimana firman Allah Swt:

Sesungguhnya telah ada pada pribadi Rasulullah itu suri tauladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut nama Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Salah satu keteladanan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw yang dapat kita contoh adalah sosok beliau sebagai seorang pedagang. Kita semua mengetahui, sosok Muhammad Saw, selain diangkat Allah sebagai Nabi dan Rasul, serta menjadi Kepala Negara, beliau juga pernah menjadi seorang pedagang yang sukses.

Karakter ini muncul sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Tepatnya, pada waktu itu Nabi Muhammad Saw berusia kurang lebih dua puluhan tahun sudah mempraktekkan perdagangan lintas wilayah, bahkan lintas negara. Muhammad muda, beserta pamannya tercinta Abu Thalib, membawa barang dagangan seorang saudagar wanita kaya, Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang kelak akan menjadi istri beliau, dari negeri Makkah ke negeri Yaman dan negeri Syam.

Perniagaan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, tidak lain merupakan bentuk praktek kegiatan ekonomi yang diwariskan kepada umat Islam untuk diteladani. Perniagaan atau istilah lainnya praktek jual-beli, termasuk salah satu prinsip instrumen ekonomi Islam. Secara tegas Allah Swt menandaskan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 275

Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah: 275)

Ada buku yang menarik yang merekam praktek perniagaan yang dilakukan Rasulullah Saw. Buku yang ditulis oleh Dr. Afzalur Rahman dengan judul Muhammad Seorang Pedagang ingin memotret sosok Rasulullah, Muhammad Saw, sebagai pelaku bisnis profesional.

Beberapa keteladanan yang dipraktekkan oleh Rasulullah Saw dalam berbisnis adalah jiwa kejujuran. Semangat kejujuran dalam berbisnis ini, telah mengantarkan beliau untuk mendapat gelar yang amat agung, yaitu al-amin, orang yang dapat dipercaya. Dalam bisnis, kepercayaan merupakan syarat yang utama. Tanpa ada kepercayaan atau kita sudah tidak dipercaya lagi oleh orang lain, bisnis yang kita jalankan tidak akan berhasil, bahkan kita akan mengalami kerugian.

Oleh karena itu, bisnis yang kita jalankan harus bertumpu pada semangat kejujuran. Sehingga dalam hal ini, Rasulullah Saw menegaskan dalam salah satu haditsnya: Rasulullah Saw melarang praktek bisnis (jual-beli) yang didalamnya ada (unsur) ketidak-jelasan.

Ketidakjelasan dalam hadits tersebut maksudnya, tidak adanya kejujuran dalamm berbisnis. Ada informasi yang ditutupi, sehingga pelaku bisnis tidak melihat kebenaran yang muncul dari bisnis yang dijalankan. [hsn]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: