Oleh: fatiaali | September 17, 2008

Promosi atau Dakwah Ekonomi Syariah

Sangat menarik membaca artikelnya Akhsin Muamar yang berjudul Marketing Dakwah Ekonomi Syariah di koran Republika, 01/09. Akhsin bicara tentang realita yang kini terjadi di industri perbankan dan keuangan syariah di Indonesia. Realita itu diantaranya berupa ketidakmampuan industri perbankan syariah untuk mengejar target 5% yang selama ini dipatok sendiri sampai dengan akhir 2008.

Kalau dicermati, penyebabnya terletak pada model pendekatan yang digunakannya terlalu berat berorientasi kepada iklan dan brand. Selama ini, industri perbankan dan keuangan syariah mengikuti ‘irama’ yang dilantunkan oleh industri perbankan dan keuangan konvensional dengan memilih promosi sebagai media untuk mengejar target tersebut. Sehingga tidaklah salah, jika saat ini masih ada masyarakat yang mengesankan sama antara apa yang dilakukan oleh bank syariah dengan bank konvensional. Ke depan, dengan semakin kuatnya posisi industri perbankan syariah pasca disahkannya UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, dituntut untuk menampilkan karakternya sendiri sebagai bank syariah.

Seharusnya bank syariah mempunyai ‘warna’ dan karakter tersendiri dalam segala hal, sebagai diferensiasi dengan bank konvensional. Selama ini, bank syariah masih sering ‘melirik’ saudara tuanya, bank konvensional, yang nota-benenya terlahir lebih dahulu di tengah-tengah sistem perbankan nasional dalam menjalani operasionalnya. Termasuk menggunakan instrumen promosi dalam mengejar target.

Bagi perbankan konvensional, promosi yang dilakukannya tidak lebih hanya sekedar untuk pencapaian jangka pendek, yakni bersifat materialistis. Promosi bagi bank kovensional tidak lebih dari sekedar jualan produk. Kalau bank syariah berperilaku seperti bank konvensional dengan menempatkan promosi sebagai bentuk jualan produk, berarti bank syariah hanya berorientasi jangka pendek. Dalam hal ini, secara tidak langsung bank syariah telah menafikan pemahaman adanya proses jangka panjang yang berorientasi untuk menggapai maslahah, sakinah, dan falah.

Pilihan promosi sebagai cara untuk mengejar target, bukanlah tanpa risiko. Bagi industri perbankan syariah, saat ini untuk melakukan kegiatan promosi, realitanya masih kalah jauh dibanding dengan upaya promosi yang dilakukan oleh industri perbankan konvensional. Sudah biaya iklan sangat mahal, namun hasilnya bisa jadi masih kurang memuaskan. Hal ini terlihat dari beberapa promosi bank syariah di TV yang menghabiskan milyaran rupiah atau bisa terlihat melalui  promosi dalam bentuk pameran (festival) yang nilai edukasinya masih terasa kurang.

Di sisi lain, dalam pandangan Akhsin, masih ada masalah di pangsa pasar kelas menengah ke atas yang cenderung tidak loyalis dengan bank syariah. Bagi kelas ini, bank syariah masih dianggap ribet, dan tidak user friendly. Persepsi seperti ini kalau tetap dibiarkan akan menjadi penghalang bagi promosi yang dijalankan oleh industri perbankan syariah. Bahkan, bisa jadi promosi tersebut akan sia-sia saja dan merugikan bagi industri perbankan dan keuangan syariah, karena tidak mendapat respon baik oleh market.

Sesungguhnya industri perbankan dan keuangan syariah dapat menggunakan metode yang ditawarkan oleh Akhsin yang selama ini juga dilakukan oleh Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), yakni dengan menggunakan pendekatan dakwah. Ya, dakwah ekonomi syariah. Dengan mengambil motto “Dakwah Ekonomi Syariah Untuk Jangka Panjang Yang Tidak Mengenal Lelah”, PKES mengedukasi masyarakat mengenai ekonomi syariah melalui buku-buku yang diterbitkan. Di antara buku yang diterbitkan oleh PKES ada buku Khutbah Jum’at Ekonomi Syariah dan buku Materi Dakwah Ekonomi Syariah yang dapat dijadikan panduan bagi para da’i-da’iah ataupun muballigh-muballighat untuk mendakwahkan ekonomi syariah ke masyarakat. Selama ini, isi khutbah jum’at dan dakwah di majelis-majelis ta’lim lebih banyak menjelaskan masalah-masalah ibadah dan aqidah. Dengan adanya kedua buku tersebut dapat mencerahkan masyarakat mengenai ekonomi syariah.

Promosi yang masih identik dengan jualan produk bagi industri keuangan dan perbankan syariah sudah harus dikurangi porsinya, untuk digantikan dengan kegiatan yang berorientasi pada edukasi (baca: dakwah) ekonomi syariah ke masyarakat. Realita yang terjadi di masyarakat saat ini masih banyak yang belum mengerti tentang ekonomi syariah, baik dari sisi konsep ataupun aplikasinya dalam bentuk lembaga keuangan syariah. Oleh karena itu, diperlukan gerakan yang dapat membuat gelombang besar dakwah ekonomi syariah di tengah-tengah masyarakat.

Ibaratnya, masyarakat kita masih perlu diajari bagaimana manfaat menggunakan ‘helm’ yang baik untuk keamanan berkendara. Setelah mereka faham cara memakai helm, nantinya terserah mereka mau membeli helm dimana. Begitu pula dengan kondisi masyarakat yang menjadi pangsa pasar industri perbankan dan keuangan syariah yang masih banyak belum faham ekonomi syariah. Nantinya setelah masyarakat sudah melek ekonomi syariah, terserah mereka mau menambatkan hatinya untuk mengambil produk dari bank syariah yang cocok dengan seleranya. Jadi, edukasi dan dakwah ekonomi syariah ke masyarakat masih perlu diperkuat dan diperluas wilayah dakwahnya. Mungkinkah promosi dapat bersinergi dengan dakwah ekonomi syariah !!! Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq


Responses

  1. tegaknya syariah dibidang ekonomi semestinya juga diperhatikan oleh seluruh aktivis dakwah. ekonomi adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan umat islam. dan islam sendiri telah memberi garis-garis pedoman bermu’amalah. oleh karena itu hukum bermu’amalah sama dengan hukum ibadah-ibadah lainnya seperti shalat dan puasa. mengenalkan mu’amalah islami adalah kewajiban dalam rangka pengamalan islam yang kaffah.

    Terlepas dari itu semua, nilai-nilai universal islam khususnya dalam bidang ekonomi harus diamalkan sepenuh hati, dan dengan profesional, sehingga islam dapat bisa diterima oleh seluruh masyarakat.

    Mengandalkan sisi emosional trandendental dalam memasyarakatkan bank islam hanya akan menjadikan perbankkan syariah sulit berkembang. Profesionalisme yang didukung dengan komitmen ber”syariah” seutuhnya akan menjadikan bank syariah bisa dipercaya oleh seluruh ummat.

  2. Saya setuju dengan Bapak Muntoha …

    Selain melakukan sosialisasi melalui dakwah, bank syariah juga perlu membangun sistem yang menunjang profesionalisme-nya. Hal ini mengacu pada realita yang ada bahwa kompetitor utama bank syariah adalah bank konvensional dengan jaringan nasabah yang kuat. Secara nyata, berbagai komentar dan keluhan mengenai kurang profesionalisme bank syariah telah di-expose di media.

    Sistem yang dibangun meliputi keseluruhan aspek dalam perbankan, antara lain sistem pelayanan, sistem teknologi, dan sistem prudentiality of banking. Dengan demikian, diharapkan bank syariah dapat menggantikan salah satu aspek keunggulan bank konvensional.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: